Beranda | Artikel
Khutbah Jumat Singkat: Ibadah Hati
12 jam lalu

Khutbah Jumat Singkat: Ibadah Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 4 Sya’ban 1447 H / 23 Januari 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Ibadah Hati

Doa yang dipanjatkan oleh hati yang lalai tidak akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah hati inilah yang akan menumbuhkan takwa, sebab tujuan utama dari setiap ibadah adalah agar seorang hamba bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan posisi takwa melalui sabdanya:

أَلَا وَإِنَّ التَّقْوَى هَاهُنَا

“Ketahuilah sesungguhnya takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya).” (HR. Muslim)

Pengaruh Ibadah terhadap Hati

Ibadah hati seperti rasa takut (khauf), rasa harap (raja’), dan cinta (mahabbah) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus diperhatikan dengan saksama. Seseorang yang mencintai Allah akan terlihat dari semangat ketaatannya. Seseorang yang takut kepada Allah tidak akan berbuat maksiat meski tidak ada orang yang melihat. Sementara itu, seseorang yang berharap akan karunia dan rahmat-Nya akan terus berusaha mencari ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai ibadah yang paling utama. Beliau menjawab bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling memberikan pengaruh pada hati. Sebagai contoh, ketika seseorang berdzikir dan hatinya merasa khusyuk serta takut kepada Allah, maka dzikir tersebut lebih utama baginya saat itu daripada membaca Al-Qur’an. Meskipun membaca Al-Qur’an pada asalnya memiliki pahala lebih besar, namun ibadah yang lebih menyentuh dan memperbaiki kondisi hati memiliki nilai yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mencintai Allah di Atas Segalanya

Seorang hamba harus menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cinta tersebut merupakan bukti keyakinan terhadap sifat-sifat Allah yang indah, rahmat-Nya yang luas, serta rezeki dan karunia-Nya yang tidak pernah putus. Rahmat terbesar yang diberikan Allah adalah hidayah. Ketika cinta kepada Allah telah merajai hati, tidak ada yang lebih nikmat selain ketaatan kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman berat bagi orang-orang yang lebih mencintai makhluk atau dunia daripada mencintai-Nya:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah[9]: 24)

Ancaman ini diberikan karena hamba yang mendahulukan cinta selain Allah hakikatnya tidak bersyukur. Allah terus memberikan kenikmatan dan waktu meski hamba tersebut berbuat maksiat, agar hamba tersebut kembali mencintai-Nya. Mencintai Allah adalah kenikmatan agung, dan takut kepada-Nya adalah kekuatan dahsyat dalam kehidupan. Inilah “surga dunia” sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الآخِرَةِ

“Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barangsiapa yang tidak pernah memasukinya, ia tidak akan masuk ke surga akhirat.” (Maksudnya adalah makrifatullah, mencintai-Nya, takut, dan berharap kepada-Nya).

Khutbah Jumat Kedua: Ibadah Hati

Ibadah-ibadah hati akan sirna ketika hati diisi dengan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang banyak berbuat maksiat akan mendapati rasa takut dan rasa cintanya kepada Allah semakin berkurang. Semakin sering kemaksiatan dilakukan, semakin hilang pula rasa takut serta kenikmatan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kondisi tersebut menyebabkan ibadah shalat menjadi terasa sangat berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan hal ini dalam Al-Qur’an:

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan sesungguhnya shalat itu terasa sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah[2]: 45)

Keutamaan Hati Para Sahabat

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan ibadah-ibadah hati yang agung ini. Mengenai keistimewaan mereka, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menyatakan bahwa para sahabat tidak diberikan kelebihan hanya karena banyaknya jumlah shalat atau puasa secara lahiriah semata. Mereka diberikan keutamaan karena apa yang bersemayam di dalam hati mereka, berupa rasa takut yang agung kepada Allah, rasa cinta, rasa harap, keikhlasan, tawakal, dan ibadah hati lainnya.

Download mp3 Khutbah Jumat: Ibadah Hati

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Ibadah Hati” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56041-khutbah-jumat-singkat-ibadah-hati/